Tuesday, July 27, 2010

Meja Kayu


Waktu lagi merapikan file-file dalam kompiku yang sudah sangat berantakan, tiba-tiba mataku tertuju pada suatu file yang berjudul ’meja kayu’, karena penasaran aku pun membuka dan membaca file tersebut. Setelah dibaca sampai habis...... Sumpah aku jadi speechless! Ceritanya sederhana tapi dalem banget cing’. Ya udah, sok atuh dibaca.

This is the story.......

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.
Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. "Kita harus lakukan sesuatu, " ujar sang suami. "Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini." Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek. 
Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.
            Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. "Kamu sedang membuat apa?". Anaknya menjawab, "Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan." Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
            Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.
            Nah gimana pendapat kamu setelah membaca kisah diatas? Apakah biasa-biasa saja, ato kamu malah bisa mendapatkan ‘sesuatu’ dari kisah diatas? Hehehe, gak perlu dijawab, cukup kamu saja yang rasakan^^. Well, dari cerita diatas kita bisa mengambil hikmah bahwa anak-anak sebenarnya adalah persepsi dari diri kita sendiri (hehehe, khusus yang udah punya anak). Hmmm, mengapa begitu? Itu karena mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka ada peniru. Sekali lagi ’peniru’ ! Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Simple saja kawan, orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap "bangunan jiwa" yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.
            So…..mari susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita (bagi yang belum punya anak maupun yang sudah) untuk masa depan kita, dan untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa ”berbuat baik dan memberi sesuatu pada orang lain”, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

Hmmm....jadi teringat kata-katanya Jennis S. Bev, itu loh seorang penulis buku tentang motivasi di Indonesia, katanya : ”There are two only classes : The Givers and The Receivers”
Mau jadi apakah diri kita sekarang dan nanti, apakah ingin menjadi seorang pemberi ataukah hanya ingin menjadi seorang yang selalu menerima saja?hmmm, It’s your choice...............

Thursday, July 22, 2010

You don’t know, i’m trying…

I’m trying to erase you from my memory, cause’ thinking of you jumbles up my mind. Hahaha, tapi ternyata memang sulit, everything needs a process kawan. Yah…proses..proses…dan proses. Tapi bukan cuma proses saja yang dibutuhkan tapi yang terpenting adalah waktu, seberapa banyak waktu yang bakal aku habiskan untuk berusaha menghapusmu dari memoriku, menghapusmu sampai tak berbekas lagi. Menghapusmu biar nanti aku tak perlu direpotkan untuk merasakan luka. Tapi……ternyata memang gak mudah, karena tanpa kusadari, aku juga telah memulainya……. It’s more than words.

Wednesday, July 14, 2010

mendam gak sihhh…..


Emang gak enak yang namanya memendam perasaan, apapun bentuknya baik itu perasaan kesal, kecewa, marah, sedih, ataupun sayang sama seseorang. Yang namanya mendam yah gitu, kita gak bisa alias gak mampu buat mengungkapkannya. Pathetic…. Sulit sekali rasanya, selalu merasa ada yang mengganjal dalam hati. Banyak alasan yang  membuat kita gak bisa ngungkapin perasaan yang kita pendam sama seseorang, entah karena kita takut buat nyakitin hati seseorang, mungkin juga karena orang  yang pengen kita ungkapin perasaan kita itu ternyata punya temperamen yang buruk, yah  atau bisa juga karena kita gak punya cukup keberanian buat ngungkapinnya. Kalo kata seorang temenku sih : “jika kamu punya sedikit saja keberanian untuk mengungkapkan apa yang kamu rasa, itu akan membuat segalanya terasa lebih ringan”, hmmmm….kalo dipikir-pikir ada benarnya juga. Tapi nggak semua sih yang kita rasakan harus kita ungkapkan juga, karena terkadang ada beberapa hal yang kayaknya lebih enak kalo cuma diri kita sendiri aja yang tau… Setuju gak sih?^^

Wednesday, July 7, 2010

ketika…..

Ketika kita mulai memilih seseorang dan memutuskan untuk menyayanginya itu artinya kita telah mengambil sebuah keputusan dengan segala resiko apapun yang mungkin bakal kita jumpai nantinya. Ketika kita memutuskan untuk menyayangi seseorang itu artinya kita mulai dewasa, kenapa? Karena itu artinya kita mulai memikirkan hal-hal terbaik apa yang akan kita berikan untuk orang yang kita sayangi itu. Dan ketika kita telah menyanyangi seseorang, itu artinya kita akan memilih untuk selalu berusaha membuatnya bahagia entah dengan cara apapun, karena dalam hati kita selalu berbicara bahwa dialah orang terbaik yang pernah dikirimkan Tuhan untuk menemani hari-hari kita.

Dan ketika aku mulai mengenalmu dan memutuskan untuk selalu menyayangimu, itu artinya aku telah mengambil sebuah kesempatan terbaik yang pernah diberikan Tuhan, kesempatan yang belum pernah ku dapatkan sebelumnya dan bahkan bisa jadi kesempatan seperti ini tak akan datang untuk kedua kalinya.
I’m speechles... Karena ternyata kamulah orang yang benar-benar aku tunggu selama ini. Dan akhirnya aku pun cuma bisa minjam kata-katanya Vertical Horizon bahwa ….. “You’re only the best I ever had……”

*untuk dia yang ternyata menyayangiku apa adanya